Sekarang ini banyak orang yang memandang remeh uang receh. Mereka mungkin berkata “ Cuma uang receh, buat apa”. Hal ini kemungkinan besar dipicu oleh adanya kenaikan tingkat inflansi yang semakin memperkecil keberadaan uang receh. Kita bisa melihat bahwa nilai uang receh menurun terus. Uang receh itu bukan saja uang logam yang biasa kita pakai untuk membayar parkir, dsb, tetapi termasuk juga uang dengan pecahan-pecahan kecil yang tidak kita perhitungkan besarnya.
Disini akan dibahas perbedaan pengeluaran yang besar dalam keuangan Anda apabila Anda menganggap enteng uang receh. Kita anggap saja pengeluaran Anda dalam sebulan dihabiskan untuk membayar cicilan, tabungan dan asuransi. Dengan perkiraan kondisi seperti di bawah ini:
|
UANG MASUK |
UANG KELUAR |
|
Penghasilan : 100% |
Cicilan utang :30% Tabungan Rutin : 15% Premi Asuransi : 20% Total : 65% dari penghasilan |
Dengan jumlah pengeluaran yang begitu besar dari jumlah pemasukan Anda, Anda harus mulai belajar untuk tidak memandang remeh keberadaan uang receh. Daftar pengeluaran Anda di atas masih belum termasuk kebutuhan sehari-hari, uang makan, transportasi, rekreasi, dan kebutuhan yang lainnya.
Dengan jumlah penghasilan yang tinggal 35% saja, Anda memutuskan untuk pergi nonton bioskop. Sekali nonton menghasikan 15 ribu rupiah (kalau nonton hemat) dan Anda berpikir “ Hanya lima belas ribu tidak mahal kok”.
Setelah pengeluaran yang cukup besar di atas, uang lima belas ribu tidak ada artinya buat Anda, bagaikan mengeluarkan uang receh. Tetapi coba Anda bayangkan kalau Anda mengeluarkan uang receh sebanyak itu setiap hari baik untuk nonton, makan, beli coklat, majalah, bayar tol dll. Anda akan mengeluarkan lebih dari Rp. 200 juta dalam jangka waktu 20 tahun, dengan asumsi kenaikan harga sebesar 10% tiap tahunnya.
Saya tidak meyarankan agar Anda berhenti makan atau jajan, nonton, dsb. Saya hanya ingin mengingatkan agar jangan memandang enteng pengeluaran kecil yang Anda lakukan setiap hari, sekecil apa pun, dengan cara mengontrol pengeluaran tersebut.
Kita biasanya membuat budget kebutuhan kita, tetapi hanya secara garis besar saja, tanpa memandang pengeluaran-pengeluaran kecil tersebut. Apabila hal itu kita lakukan dengan baik kita dapat mengalokasikan uang tersebut untuk kebutuhan yang lebih penting, bahkan mungkin kita bias alokasikan uang lebih untuk membuka usaha sendiri atau untuk investasi.
Cara yang paling ampuh adalah setiap Anda pergi ke mall atau tempat belanja lainnya, setiap Anda tergoda untuk membeli sesuatu yang Anda tidak butuhkan, tanyakan pada diri Anda sendiri : Apakah pengeluaran yang saya lakukan ini akan membantu saya mencapai tujuan-tujuan keuangan saya? dan Apakah ini kebutuhan atau keinginan?”. (Himawan Hartono).
Sumber: http://www.wealthindonesia.com